Dijual beberapa koin perak:
Set I : SOLD,-


Set II : SOLD,-


Set III : SOLD,-


Saturday, March 5, 2011
Koin Perak Gulden Belanda
Posted by
On Coffee Talk
at
5:13 AM
0
comments
Labels:
Barang Bekas,
Collection In Coffee Talk,
Koin-Koin (Coins),
Money In Coffee Talk,
Silver in Coffee Talk
Monday, September 28, 2009
Inflasi Dan Nasi Kucing
Dari info yang saya dapatkan, ternyata bulan November th.1999 adalah pertama kalinya Indonesia menerbitkan pecahan Rp.100rb dalam bentuk uang plastik (polymer). lihat link ini. Jadi hingga saat ini (Sep 2009), pecahan terbesar kita ini telah hampir berumur 10th!
Di tahun-tahun awal terbitnya, mata uang ini sanggup membeli 13.89 kg telur ayam di pasaran , sekarang mata uang ini hanya sanggup menebus 8.33.kg telur ayam di pasaran. Dengan demikian nilai mata uang terbesar kita selama 10 th telah mengalami penurunan sebesar 40 % terhadap telur ayam !
Sewaktu saya masih kelas 1 SMP, th 1985 saya biasa membeli nasi bungkus porsi kucing yang berisi sedikit soun dan sambel goreng tempe-ikan teri yang nikmat seharga Rp.50,- sebungkus.
Menu semacam itu sekarang ini kira-kira harganya Rp. 3.500.- atau telah melipat 70 kali alias 7.000 persen dalam 24 th!
Melihat besarnya Inflasi dengan data harga telur ayam dan nasi kucing mungkin tidak terlalu valid dikalangan ekonom, namun demikian bagi banyak orang kecil yang biasa makan nasi kucing atau telur sebagai sumber protein yang mewah, mungkin sangatlah relevan.
Pada tahun 1985, penghasilan orang tua saya sebulan adalah Rp. 300 ribu. Bila saya menggunakan matematika yang saya baca dari tulisan Bung Imam Semar, maka ayah saya bisa memberi makan keluarganya yang terdiri dari 2 orang dewasa dan 5 anak (total 7 orang) dengan menu nasi kucing sebanyak: Rp. 300.000,-/ Rp. 50,- = 6.000 bungkus. Padahal kami hanya membutuhkan 7 org x 3 kali x 30 hari = 630 bungkus per bulan! Yang berarti sisanya bisa dipakai untuk keperluan lain atau ditabung!
Saat ini nilai 6.000 bungkus nasi kucing setara dengan Rp. 3.500 x 6000 = Rp. 21.000.000,- !
Maka untuk keluarga dengan penghasilan sebesar Rp. 10.000.000,-/bulan, jangan harap memiliki anggota keluarga lebih dari [(10jt/21jt) x7 org] = 3.33 orang, alias 2 dewasa dan 1 anak untuk masih bisa makan dengan menu tetap nasi kucing selama 1 bulan dengan masih memiliki sisa uang untuk keperluan lain atau tabungan !
Silakan memahaminya sendiri, semoga tulisan ini berguna!
Posted by
On Coffee Talk
at
9:03 PM
0
comments
Labels:
Catatan di Coffee Talk,
Economic in Coffee Talk,
History in Coffe Talk,
Inflation in Coffee Talk,
Life Sharing in Coffe Talk,
Money In Coffee Talk,
Point to Ask in Coffee Talk
Wednesday, September 23, 2009
Grocery Stores Begin To Accept Silver.
Berikut link dari Youtuber lain yang memuat film dokumenter tsb.
http://www.youtube.com/watch?v=5xnIFzP2bTY
update: http://www.youtube.com/watch?v=7IfyXyu7xNI
Silakan dipahami sendiri, semoga tulisan ini berguna!
Posted by
On Coffee Talk
at
10:07 AM
0
comments
Labels:
Economic in Coffee Talk,
Gold in Coffee Talk,
Life Sharing in Coffe Talk,
Money In Coffee Talk,
Silver in Coffee Talk
Thursday, September 17, 2009
Bank Note Rp. 2.000.000.000,-
Selama masa kemerdekaan th 1945 hingga saat ini, kita telah mengalami paling tidak 4 kali perubahan besar nilai RUPIAH yaitu :
1. RUPIAH jaman Hindia Belanda (*) (Nederl-Indie) yang mana nilainya setara dengan Gulden. Ini bisa kita lihat pada mata uang kuno masa itu. Sebagai contoh bisa kita lihat pada koin perak yang pada satu sisinya tertera Nederl-Indie ¼ Gulden, pada sisi sebaliknya tertulis dalam aksara arab dan jawa yang menyebutkan nilainya adalah Seprapat Rupiyah (seperempat rupiah) seperti pada gambar berikut ini:
Setelah merdeka, Indonesia menerbitkan Oeang Repoeblik Indonesia (ORI) yang saya perkirakan nilai awalnya setara dengan uang Hindia Belanda, di atas hingga beberapa peristiwa besar berikutnya yang berkaitan dengan moneter di negeri ini terjadi.
2. RUPIAH jaman gunting Sjafruddin (**) (1950), dimana nilai rupiah mengalami pengguntingan nilai sebesar 50%, sehingga nilai tertera menjadi tinggal separonya saja. Sebagai contoh Rp.10 menjadi senilai Rp.5 (perbandingannya 2:1, atau bila dibalik maka Rp.1 yang baru sebenarnya = Rp.2 uang lama*).
3. RUPIAH jaman Orde Lama (***) (1959), Setelah mengalami pengguntingan nilai menjadi hanya separonya, kembali rupiah mengalami pemotongan/penghapusan nilai sebesar 90%, yaitu Rp.100, menjadi Rp.10,- (perbandingannya 10:1,atau bila dibalik maka Rp. 2 uang baru = Rp.20 uang lama**)
4. RUPIAH jaman Orde Baru (****) (1965), terjadi lagi pemotongan nilai rupiah menjadi sebesar 1/1000 uang Orla, sebagai acuan nilai uang Rp.1000, - nilainya ditetapkan menjadi Rp.1,- (perbandingannya 1000:1, atau bila dibalik maka Rp.20 yang baru = Rp.20.000 uang lama***)
Saya sengaja menyertakan perhitungan terbalik seperti yang tertulis dengan warna merah diatas, sekedar untuk menghitung balik berapa besar seharusnya angka yang tertulis pada mata uang kita sekarang di th 2009 bila tidak mengalami pemotongan atau penghapusan angka, namun alih-alih sebagai gantinya, pada setiap tahap kebijakan diatas dilakukan penambahan angka saja sesuai perbandingan yang diberlakukan untuk mata uang yang baru. Tanda asteris(bintang) menunjukan Rupiah yang mengalami perubahan nilai.
Berikut perhitungan saya dengan memakai uang Hindia-Belanda 1Gulden yang juga akan berarti sama dengan satu Satu Rupiyah (karena 1/4G = seprapat rupiyah*):
Rp.1*,- menjadi Rp.2**,- lalu menjadi Rp.20***,- kemudian menjadi Rp. 20.000****,-
Berdasar kalkulasi tersebut diatas, pada tahun 2009, dimana nominal terbesar mata uang kita sekarang adalah Rp.100.000,- (Seratus Ribu Rupiah) maka bila keempat peristiwa besar moneter tadi tidak diikuti dengan penghapusan angka(digit), tentunya yang tertulis pada mata uang terbesar di negeri ini sekarang adalah Rp.2.000.000.000,- (Dua Milyar Rupiah!).
Silakan memahaminya sendiri, semoga tulisan ini berguna!
Posted by
On Coffee Talk
at
6:46 PM
1 comments
Labels:
Bank in Coffee Talk,
Economic in Coffee Talk,
History in Coffe Talk,
Money In Coffee Talk
Wednesday, March 25, 2009
RENMIMBI

Sebuah berita menarik kemarin muncul di situs BBC Indonesia, tentang kesepakatan pemakaian Renmimbi atau Yuan dalam hubungan dagang bilateral Indonesia – China.
Di masa depan, akankah Renmimbi/Yuan menjadi mata uang yang bakal menggantikan dominasi US dollar?
Posted by
On Coffee Talk
at
1:00 PM
0
comments
Labels:
Bank in Coffee Talk,
Economic in Coffee Talk,
Market in Coffee Talk,
Money In Coffee Talk
Saturday, November 22, 2008
Mencermati Emas Dalam Rupiah
Selama kurun waktu yang lama, emas memiliki nilai tukar yang tetap terhadap barang lain (zero inflation).
Namun tidaklah demikian bila emas diperbandingkan dengan uang fiat yang tidak memiliki nilai riil dan berfluktuasi.
Gambar di atas menunjukkan tingkat harga emas yang jauh lebih tinggi dalam rupiah, meskipun harga emas dunia ada di posisi lebih rendah dari harga tertinngi yang pernah dicapai selama ini.
Saat ini US$ sedang dalam performa yang tinggi karena kecenderungan investor memegang cash in US$, namun pada saatnya mereka berbalik arah, maka emas mempunyai potensi yang besar untuk melejit.
Posted by
On Coffee Talk
at
4:14 PM
0
comments
Labels:
Money In Coffee Talk
Tuesday, April 15, 2008
The Rich Get Richer
Artikel berikut, saya copy dari : http://finance.yahoo.com/expert/article/richricher/76669.
Pemikiran dari seorang Robert Kiyosaki, semoga berguna.
Survival of the Richest
Most of us are aware of the sacrificial slaughter of Bear Sterns. Some people call it a bailout, but I call it a handout -- a government handout to some of the richest people on Earth, paid for by American taxpayers.
It's the survival of the richest, and the poorest be damned. There's something dismal about a society that operates by those values.
The Economy on Life Support
I understand why the Federal Reserve did what it did with Bear Stearns. The Fed was doing its job -- acting as the lender of last resort, pumping money into a dying system. It wanted to prevent a run on the bank and economic chaos. It was a very creative financing move, using the Fed's magic checkbook to pump more liquidity into a thirsty market -- sort of like a physician administering life-saving measures to a critically wounded patient.
My problem with the move is that the Fed saved this patient because it's a wealthy one. Saving the biggest investment banks in America is welfare for the rich. Would the Fed do that for you or me if we screwed up our investment portfolio? Is the Fed going to bail out the millions of people facing foreclosure because the value of their homes is less than their mortgages? If I'm a small-business owner and fall behind on my taxes, is the Fed going to pay my taxes for me? If I can't pay off my college loan, will the fed pay it for me?
Aren't these investment bankers supposed to be the smartest guys in the world? Aren't they the people we entrust with our investment and retirement money? Aren't they supposed to be financially fit? Some blame subprime borrowers as the culprits in this mess, but the supposedly brilliant investment bankers bought their mortgages. Was that smart?
A Handout for the Rich
This bailout was a signal to Wall Street that the Fed stands behind them -- that they're on the same team. It was a thumbs-up to the super-rich: "Do what you want. If you screw up, we'll cover your blunders."
Ralph Nader's father purportedly once said that "Capitalism will never fail because Socialism will always bail it out." My concern, especially in this election year, is that socialists will seek revenge. Already I can hear the war cry "tax the rich!" The problem with taxing the truly rich is that the rich simply move their money to countries that treat them and their money with undue respect. And when the rich move their money, the poor and middle class end up paying more taxes.
Not only will taxes go up, but the prices of food and fuel will increase, because the purchasing power of the dollar will continue to decline. This rise in cost of living, plus higher taxes and stagnant wages, could lead to unrest -- protests, riots, and possibly chaos. In other words, what the Federal Reserve was attempting to prevent may happen anyway.
When Capitalism Stumbles
Bailing out the rich means over $800 billion from the Fed's magic checkbook entered the market. Immediately, the stock market rebounded and the price of gold and silver declined. The U.S. dollar strengthened against the euro. While this looks like a good sign, I'm afraid the problem isn't solved. The inevitable may only have been delayed.
Our problem is a toxic U.S. dollar. Printing funny money steals from the poor and middle class, savers, and the elderly. It may be legal, but it isn't moral or ethical. As long as the Fed is allowed to wield its power at will, the prices for food and fuel will only go up.
So will the price of gold and silver. Some are calling for gold and silver to go over $2,500 and $200 an ounce, respectively. Some even believe gold will go as high as $5,000 an ounce. I hope not. While I get excited about seeing the gold I purchased for less than $300 an ounce flirt with $1,000 an ounce, I also begin to worry.
The rise in the price of gold is a sign that capitalism has stumbled. And when capitalism stumbles, workers' wages buy less and savings are wiped out. Even gains from the stock market are diminished because our dollar gains are worth less.
Troubles Past and Present
Throughout history, when capitalism stumbles chaos erupts and sometimes despots take over. For example:
• In 1897, the Russian ruble was pegged to gold and a period of relative economic growth followed. Russia went off the gold standard to finance World War I. The government fell to the Bolsheviks in 1917, and the Russian mafia took control of the economy.
• After World War I, the German middle class was wiped out and Adolf Hitler was voted into power in 1933.
• In the 1930s, China was the only country on the silver standard. In 1935, the nationalist Chinese government started issuing paper money. In 1937, in order to fight the Japanese, the government began printing funny money. The value of their currency went from four yuan per dollar in 1936 to a trillion yuan per dollar in 1949. In May of 1949, the Chinese government fell to Mao Tse-Tung and the Communists.
• In 1984, Yugoslavia hosted the Winter Olympics just as their currency, the dinar, began to devalue. In 1989, the IMF recommended more devaluation and the freezing of workers' wages. Rioting broke out, and in 1989 Communist party leader Slobodan Milsoevic was elected into power. Yugoslavia broke apart as war and ethnic cleansing began.
As capitalism falters, the rich move their money out of the country, violence increases, and politicians promising prosperity are elected. It's happened before, and I fear it's happening again. Trouble brews when we steal from the poor and give to the rich.
Posted by
On Coffee Talk
at
9:01 PM
0
comments
Labels:
Money In Coffee Talk
Friday, March 7, 2008
What Do You Safe In ?
Cuplikan dari link ini As a Storehouse of Value, Cash has Failed Miserably Back on November 7 of last year, $100,000 would have bought you ... In Four Years, Each of Your Dollars Will Be Worth Sure, there will be occasional rallies in the value of the dollar. As a matter of fact, we may soon see one that lasts a few months. But even so, there's still absolutely no doubt in my mind whatsoever that the U.S. dollar will lose another 40% of its value in the next four years. ( Larry Edelson )
Two Measly Quarters and One Lousy Dime!
Posted by
On Coffee Talk
at
8:47 PM
0
comments
Labels:
Money In Coffee Talk
Saturday, January 19, 2008
Menunggu Banjir Dollar
NEW YORK: Parlemen AS menyetujui rencana stimulus ekonomi US$146 miliar untuk mencegah resesi dengan memberikan keringanan pajak bagi sekitar 111 juta warga negara itu.
(sumber: Bisnis Indonesia Online )
Posted by
On Coffee Talk
at
10:57 AM
0
comments
Labels:
Money In Coffee Talk
Wednesday, January 2, 2008
Perbedaan "Kecil" Suku Bunga Kredit
Sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan kredit bank.
Misal :
Bunga kredit : 10% (/th)
Besar kredit : Rp. 10,000,000,-
Masa kredit : 12 bulan
Maka besar total pembayaran bunga dalam 12 bulan:
- Dengan bunga 10%:
> (Rp. 10,000,000,- x 0.10)
= Rp. 1,000,000,-
- Dengan bunga 12%:
> (Rp. 10,000,000,- x 0.12)
= Rp. 1,200,000,-
* Selisih pembayaran dengan kedua bunga yang berbeda tersebut: Rp. 1,200,000 – Rp. 1,000,000 = Rp. 200,000,-
* Prosentase besar selisih terhadap cicilan dengan bunga 10% adalah : Rp. 200,000 / Rp. 1,000,000 = 0.20 = 20%.
Jadi dengan bunga pinjaman 12%, menyebabkan peminjam membayar bunga 20% lebih besar (bukan 2% lebih besar !) dari cicilan dengan bunga 10%.
Memang besaran prosentase di sini tergantung faktor pembagi yang digunakan (bisa hutang pokok, bisa total pembayaran), tetapi dari sudut pandang peminjam, faktor selisih besaran cicilan atau jumlah total pembayaran jauh lebih signifikan terhadap kemampuan membayar peminjam.
Posted by
On Coffee Talk
at
8:13 PM
0
comments
Labels:
Money In Coffee Talk
Thursday, December 27, 2007
Deviasi Sistem Mata Uang
Konsep pertukaran sedikitnya telah mengalami tiga perubahan besar dari system barter hingga system transaksi modern.
Dalam proses evolusi mata uang, hingga era sekarang ini, kita dapat melihat terjadinya transaksi pertukaran mengalami perubahan atau penyimpangan dari konsep pertukaran yang berimbang atau adil kepada pertukaran tidak berimbang dari ukuran nilai intrinsic antara :
- Harta dengan Harta, (antara hasil bumi dengan ternak, antara barang dengan butiran emas, antara sebidang tanah dengan koin emas atau perak)
- Harta dengan Sertifikat Atas Harta, (antara barang atau jasa dengan sertifikat emas atau perak)
- Harta dengan Uang Kertas, (antara sepotong baju dengan uang kertas, antara seuntai perhiasan dengan uang kertas.)
Hal yang membuat kita mengikuti system uang kertas adalah kepercayaan kepada kekuatan suatu otoritas / pemerintahan atau eksistensi suatu negara yang menetapkan kertas-kertas tersebut sebagai alat tukar yang sah.
Posted by
On Coffee Talk
at
9:06 PM
0
comments
Labels:
Money In Coffee Talk
Wednesday, December 26, 2007
Uang Sebagai Alat Tukar
- Dapat diterima secara luas sebagai Media Tukar.
(Kecil namun bernilai sehingga cukup mudah dibawa, sebagai alat penukar).
- Dapat dijadikan sebagai Standar Ukuran Nilai.
(dipakai sebagai alat untuk menentukan kesepadanan nilai antara suatu barang/jasa dengan barang/jasa lainnya).
- Dapat Menyimpan Nilai.
(Dari fisiknya sendiri/ intrinsik, uang haruslah memiliki nilai yang tidak berubah, dan secara fisik tidak dapat diciptakan dari benda lain/dipalsukan).
Posted by
On Coffee Talk
at
1:24 PM
1 comments
Labels:
Money In Coffee Talk
Tuesday, December 25, 2007
Evolusi Mata Uang
Transaksi atau proses pertukaran telah terjadi sejak ribuan tahun yang lalu, bahkan kemungkinan besar dimulai hampir bersamaan dengan peradaban manusia.
Dari dimulainya transaksi, hingga timbulnya ide pemakaian alat tukar, dimulailah sejarah uang yang kita gunakan hingga sekarang.
Sistem alat tukar atau uang telah mengalami evolusi, perubahan bentuk baik secara fisik maupun secara konseptual sejak awal hingga masa kini, seperti dijabarkan dalam beberapa poin dibawah ini:
Sistem barter.
Sistem Emas (elektrum) sebagai uang (setelah proses “pencarian”media tukar spt kambing, tembakau, manik-manik-kulit kerang).
Sistem koin emas dan perak sebagai uang.
Peredaran bukti titipan emas sebagai “uang kertas” pengganti koin emas dan perak.
Sistem uang kertas, hasil mutasi dari kertas bukti penitipan yang ditetapkan penguasa sebagai uang.
Transaksi sistem pindah pembukuan perbankan dan berlanjut ke sistem pembukuan elektronik yang memungkinkan pertukaran tanpa menggunakan alat tukar secara fisik (cashless / uang elektronik).
System pembukuan elektronik mengantar , system pertukaran atau transaksi ke suatu terobosan yang amat luar biasa dari fleksibilitas, kecepatan, keamanan, keakuratan data dan membuka suatu era transaksi baru.
Posted by
On Coffee Talk
at
11:51 AM
0
comments
Labels:
Money In Coffee Talk

